Halaman Arsip 3

Sehari Bersama Ade

 

Ini adalah kegiatan volunteer yang saya lakukan sebagai bagian dari tugas mata kuliah Pembelajaran Anak dengan Gangguan Emosi dan Perhatian dengan dosen Bapak Lalan Erlani M.Ed. Alhamdulillah lulus dengan nilai A :) . Sekaligus sebagai pengobat sakit hati saya pada kuliah semester sebelumnya dengan beliau dimana saya mendapat nilai C :) . Ade (bukan nama sebenarnya) adalah seorang anak penyandang autis yang berusia 6 tahun. terimakasih kepada Ade dan keluarga yang telah mengizinkan saya untuk melakukan kegitan ini. Jazakumulloh Khoiron Katsiro. Semoga Alloh membalas dengan kebaika n yang banyak.

Lanjutkan membaca ‘Sehari Bersama Ade’

Pangeran Kecil


Seorang bocah kecil

Tidur lelap dipangkuanku

Berayun-ayun seiring laju mobil

Dari Pondok Kopi menuju Kampung Melayu

Kepalanya bersandar di dadaku

Tangan mungilnya menyentuh ujung jilbabku

Saat sedang bermain

Ia laksana setan kecil yang menjengkelkan

Tapi lihatlah saat ia terlelap

Sungguh,

Ia laksana malaikat tanpa dosa

Aduhai,

Malang nian…

Bocah kecil ini baru saja ditinggal Bunda

Bunda tercinta pergi

Kanker ganas menjadi jalan pulangnya

Kembali menuju Robbul Izzati yang Maha Hidup

Pangeran kecil yang tampan…

Nyenyaklah dalam buaianku

Mungkin tak selembut buaian Bunda

Lelaplah dalam pelukanku

Mungkin tak sehangat dekapan Bunda

Tapi… Lanjutkan membaca ‘Pangeran Kecil’

GENERASI SEMBILAN SERATUS


Gadis-gadis kecil itu duduk melingkar

Memasang telinga baik-baik

Telinga yang tersembunyi

Dibalik kerudung-kerudung kecil

Gadis-gadis kecil itu tengah menyimak

Untaian kalimat petunjuk

Petunjuk menuju syurga

Suara berat yang terdengar tengah menjelaskan

Jalan menuju syurga…

”Jika kalian ingin masuk kelas unggulan, masuk IPA. Tentu kalian akan bertanya pada kakak-kakak kelas yang telah masuk kelas unggulan dan IPA itu…”

”Kalian pasti akan bertanya tentang cara belajar mereka, tips dan trik hingga bisa masuk ke kelas tersebut.”

Gadis-gadis kecil itu mengangguk-angguk

Logika mereka membenarkan

”Begitulah, begitu pun jika kalian ingin masuk syurga. Kalian harus melihat bagaimana cara beragamanya orang-orang yang sudah dijanjikan syurga. Alloh Sang Pemilik Syurga yang memberi jaminan. Tahukah kalian siapa mereka?. Mereka adalah GENERASI SEMBILAN SERATUS…”

Gadis-gadis kecil membuka mushaf

Mencari surat sembilan, ayat seratus

Sebuah surat yang dilarang melafazkan basmallah

Ketika membacanya…

orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” Lanjutkan membaca ‘GENERASI SEMBILAN SERATUS’

Hanya Kepada-Mu aku meminta

“Logika?!. Dimana logika ketika Nabi Yunus berada di dalam perut ikan Hiu?. Berada dalam tiga kegelapan. Lantas Alloh menumbuhkan semacam pohon labu dalam perut ikan hiu itu. Dari situlah Nabi Yunus bertahan hidup sampai empat puluh hari. Coba apa yang diucapkan. Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimiin. Hanya itu Vi, hanya itu…!
”Apa yang tidak mungkin buat Alloh jika ia berkehendak?!” 
  

Ia, ukhty diujung telepon sana tidak sedang menasehatiku. Tidak pula sedang mendengarkan keluh kesahku. Apalagi menyemangatiku dari keterpurukan. Tidak. Ia sedang menasehati dirinya sendiri. Menyemangati dirinya sendiri dari keterpurukan. Dan aku hanya mencoba menjadi pendengar yang baik berbekal CDMA seribu sejam ini.

Jujur, aku bersimpati padanya. Ia akhwat yang luar biasa. Memegang kuat hujjah, bersemangat, dengan ghiroh dakwah yang membuncah. Ia telah melewati banyak hal. Melewati saat-saat terhoror dalam hidup seorang wanita. Dan ia telah melewati semuanya dengan ketegaran. Saat ini pun situasinya masih sulit. Aku tak bisa memberi banyak solusi. Tapi jelas, kisahnya mampu menjadi penyulut dalam hidupku. Pun semangatnya telah memberi nafas pada jiwa dakwahku yang sedang mati suri. Jiwa dakwah yang terluka dan merasa tak lagi punya celah tuk bergerak. Tapi ternyata selalu ada ruang. Ruang jiwa untuk bergerak. Maka kini aku telah siuman, mencoba mengobati luka kemarin, mencharge baterai dakwahku, dan bergerak ke medan dakwah kembali. Lanjutkan membaca ‘Hanya Kepada-Mu aku meminta’

Anak Kecil Saja Tahu Malu

Suatu ketika adikku (lahir tahun 2003, hitung sendiri umurnya) kuajak ke tempat kajian dekat rumah, tanpa ibu. Ibu mendandaninya lengkap dengan jilbab kecilnya. Aku menawarkannya untuk membuka jilbabnya. Ia menolak. Malu katanya. Sekali lagi kutawarkan untuk membuka jilbab, ia tetap menolak dengan alasan yang sama. Aku sampai menekankan kalau tidak apa jika ia ingin membuka jilbab karena aku khawatir kalau ia kegerahan. Tapi ia tetap menolak. Selesailah kajian. Kami pun pulang. Setelah masuk gerbang, ia berlari ke dalam dan langusng membuka jilbabnya dengan ekspresi lega seperti orang yang lega setelah buang hajat. Aku jadi tertawa geli. Rupanya butuh perjuangan mempertahankan jilbab kecilnya itu. Padahal ia masih kecil. Seharusnya wanita-wanita yang tidak berjilbab malu padanya.

Lanjutkan membaca ‘Anak Kecil Saja Tahu Malu’

And The Story Goes…


Suatu malam, saat bulan purnama mempercantik langit. Di pertengahan bulan Juli tahun 1987. Di sebuah rumah, nampak seorang perempuan muda berkeringat menahan perih di perutnya. Perempuan satu lagi, yang berusia jauh lebih tua merasa mungkin inilah saat yang dinanti. Perempuan itu dengan tergopoh-gopoh segera keluar rumah untuk mencari bantuan. Ia berpesan pada si perempuan muda agar tidak membukakan pintu jika yang suara yang terdengar bukanlah suara yang dikenal. Waktu itu tengah malam. Hampir sepertiga malam akhir. Perempuan paruh baya itu pergi mencari bantuan. Mencari seseorang yang mempunyai sepeda motor untuk mencari tenaga medis. Akhir tahun 80-an, sepeda motor masih merupakan barang mewah yang cukup langka di negeri ini.

Tak lama kemudian perempuan paruh baya itu datang bersama seorang perempuan. Ia seorang bidan. Bidan desa beragama Nashrani. Ia datang untuk membantu perempuan muda nan lugu itu menghadapi saat-saat persalinan pertamanya. Saat bertarung melawan maut. Menghentakkan seluruh tenaga yang tersisa. Memasrahkan diri pada kehendak-Nya. Meregang nyawa dengan rasa sakit yang begitu hebat. Sayup-sayup terdengar suara muadzin mengumandangkan adzan subuh. Allahu Akbar!!Selang beberapa saat setelah muadzin selesai mengumandangkan adzan, bayi perempuan itu lahir. Keluar dari rahim perempuan muda nan lugu yang tegar. Tangisnya membahana. Membangunkan seluruh penghuni rumah. Mengguncang alam pagi yang masih elok. Ia terlahir sempurna. Dengan panjang sekitar 50 cm dan berat kurang lebih 3 kg. Ia bayi yang sehat. Dan ia begitu beruntung karena Alloh telah menyempurnakan fitrahnya dengan menitipkannya pada sebuah keluarga muslim. Inilah kesempurnaan yang hakiki. Matahari rela membagi sinarnya pada rembulan. Rembulan pun siap menerangi bumi kala malam mulai tampak. Dan kini bayi perempuan yang lahir ditemani cahaya rembulan dan kumandang adzan subuh itu siap menjalani takdir selanjutnya. Lanjutkan membaca ‘And The Story Goes…’

« Halaman Sebelumnya


Pengunjung Kelas

  • 5,511

Pelajaran Favorit

Arsip Kelas

Kategori


ayo pake jilbabnya