Antara Ilmu dan Amal


Setelah menuntut ilmu, seseorang dituntut untuk mengamalkan ilmunya. Ilmu dicari bukan karena ilmu itu sendiri tapi karena hal lain, yaitu pengamalannya. Maka setiap ilmu agama dicari hanya karena ia sebagai perantara bagi amal, yakni beribadah kepada Alloh Ta’ala. Ilmu bukanlah tujuan akhir yang dicari, tetapi ia hanyalah perantara menuju pengamalan. Segala macam keutamaan ilmu hanya berlaku jika ilmu diamalkan. Seorang yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya maka ilmu itu akan menjadi bencana, kerugian, dan penyesalan bagi dirinya.    

Itulah kutipan paragraph yang kuambil dari proposal dauroh muslimah yang sedianya akan diadakan oleh FSI Al-Kautsar Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Namun Qodarulloh karena satu dan lain hal, dauroh tersebut urung dilaksanakan. Dan diganti dengan tabligh akbar khusus muslimah dengan tema ”Wanita antara ilmu dan amal” dengan pembicara ust Sulam. Alhamdulillah telah sukses diselenggarakan pada tanggal 23 Agustus 2008.

Masih teringat pertanyaan seorang kawan yang sama-sama berjuang di kampus hijau. Saat tahu akan ada tabligh akbar khusus muslimah, ia bertanya perihal temanya.

”Temanya apa Vi?” Tanyanya.

”Wanita antara ilmu dan amal.” Jawabku

”Ya Alloh Vi, serem banget sih temanya!!.” Dia bergidik sementara aku tersenyum geli melihat reaksinya.

Tapi jauh dilubuk hatiku, aku membenarkan ucapannya. Ya serem sekali. Apalagi untuk orang-orang seperti aku dan kawanku itu. Orang-orang yang sudah malang melintang di dunia kajian, yang telah hinggap dari satu mejelis ke majelis yang lain. Lalu sebuah pertanyaan besar pun terbersit. Adakah pengaruh positifnya pada diri kami?!. Sudah lama ngaji tapi kok masih gitu-gitu aja. Betapa mengerikan!!.

Padahal seharusnya amal itu selaras dengan ilmu. Diperolehnya ilmu seharusnya melahirkan pribadi yang lebih baik daripada sebelum berilmu. Tapi kadang, kenyataan menunjukkan hal yang sebaliknya. Lalu dimanakah letak masalahnya?. Teringat diskusi dengan seorang akhwat perihal masalah ini.

”itu karena hawa nafsu Dev”. Katanya dari ujung telepon.

”O, Iya benar kak”. Ucapku membenarkan.

”Ingat, nafsu sendiri ada banyak”. Ia menukil dari kitab-kitab Ibnul Qoyyim yang sepertinya telah dikhatamkannya. Nafsu Muthmainnah, nafsu lawwamah dll. Silahkan merujuk sendiri.

”O iya ya kak…benar”. aku mengangguk-anggukkan kepala.

”ilmunya terkalahkan oleh hawa nafsunya ya kak…” aku mengambil kesimpulan dari penjelasannya.

Ya, itu dia masalahnya. Sepertinya kebanyakan kita bermasalah dalam hal mengendalikan hawa nafsu atau mungkin lebih sering dibahasakan dengan nama ”syahwat”. Teringat kembali perbincangan dengan seorang kawan. Kali ini via sms. Sayangnya, kenapa dia harus sms dipagi hari?. Tak tahukah ia, selalu ada melodi dipagi hari ”gedebug, gedubrak, bag, bug, prang, crang, tang, teng” di rumahku ini. Itulah melodi dipagi hari yang tercipta dari perpaduan antara bunyi langkah kakiku yang tergesa-gesa karena bangun kesiangan, suara pintu yang dibuka dengan paksa dan ditutup dengan sia-sia, suara panci, penggorengan dan sodet yang selalu seirama guna menyiapkan hidangan perbekalan perutku mengarungi hari. Baiklah, kita maklumi saja. Karena si Fulan ini memang belum terlalu mengenalku. Begini diskusi kami.

Fulan: ”devi bgm carany mengendalikan nafsu jelek?”

Devi: ”hilangkan srn&prsarana yg mnunjg, mujahadah, bnyk beristghfar, mohon ptolngn pd Alloh”

Fulan: ”lah gmn klo bernafsu?”

Keningku berkerut membaca sms itu. Lalu kujawab

Devi: ”nafsu itu ad bkn utk dituruti tp dislrkan dg cr yg bnr. Klo qt slalu mnuruti hawa nafsu,lalu apa bedanya dg binatang??”

Fulan: ”devi punya nafsu?”

Keningku semakin berkerut.

Devi: ”lah, gmn siy?. Stiap mnsia kan punya nafsu??”

Pembicaraan pun berakhir. Dan aku masih bertanya-tanya. Kenapa pula dia menanyakan hal itu. Tapi sudahlah. Yang penting kau sudah menjawab sesuai dengan kapasitas pengetahuanku. Mohon koreksi jika ada yang salah dengan jawabanku.

Mari kita simak penuturan Imam Ibnu Al-Jauzy dalam kitabnya ”Shoidul Khothir” pada bab Ilmu dan Amal.

Pendapat jiwa saya tentang ilmu sangatlah positif adanya. Ia menghormatinya melebihi hormatnya kepada yang lain. Baginya ilmu adalah pegangan. Lebih utama baginya untuk menyibukkan diri dengan ilmu ketimbang dengan hal-hal yang sunnah. Jiwa ini berkata, ”Bagiku, ilmu lebih utama dari hal-hal yang sunnah. Aku menyibukkan dirinya dengan sholat dan puasa sunnah daripada mengajarkan ilmu pengetahuan. Semua itu berpangkal dari tidak benarnya asal dan akar pengetahuan mereka.” Bagi saya, pendapat jiwa saya adalah sikap yang sangat serius dan benar.

Akan tetapi, sejenak saya termenung melihat orang-orang yang sangat serius dengan ilmu yang ditekuninya. Saya lantas menggugat, ”Apa yang bisa engkau peroleh dari ilmu? Adakah rasa takut dalam dirimu? Adakah engaku memiliki kesedihan? Mampukah engaku berhati-hati? Tidakkah engkau mendengarkan kisah-kisah orang pilihan tentang ibadah dan kesungguhan mereka? Tidakkah engkau mendengar sabda Rasulullah Sholallahu ’alaihi Wasallam bahwa sebaik-baik makhluk pilihan adalah yang melakukan sholat malam hingga membengkak kakinya? Pernahkah engkau mendengar bagaimana Abu Bakar selalu bersedih dan menangis? Tidakkah engkau tahu bahwa di pipi Umar terlihat dua garis bekas aliran air mata tangisnya?

Simaklah kisah Usman yang mengkhatamkan al-Qur’an dalam sekali sholat. Bayangkanlah Ali yang menangis di malam hari di mihrabnya, hingga janggutnya basah oleh air mata, sambil berkata ’Wahai dunia, perdayalah orang-orang selain aku!’Tahukah engkau dengar bahwa al-Hasan al-Bashri hidup dalam kesusahan yang luar biasa? Bukankah Said bin al-Musayyab selalu berada di masjid hingga tak sekali pun kehilangan sholat berjamaah selama empat puluh tahun? Pikirkanlah olehmu bagaimana al-Aswad bin Yazid berpuasa hingga wajahnya kuning dan sekali waktu bahkan membiru? Renungilah perkataan Bintu al-Rabi’ bin Khaitsam kepada ayahnya, ’Sesungguhnya ayahmu takut akan azab yang datang secara tiba-tiba di malam hari.”

Perhatikanlah ulah Abu Muslim al-Khulani yang menggantung sebuah cemeti di masjid untuk mencambuk dirinya sendiri jika ia merasa malas mendekatkan diri kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Camkanlah perkataan Yazid ar-Raqqasyi, yang berpuasa selama empatpuluh tahun, ’Para ahli ibadah telah mendahului aku, mereka telah jauh meninggalkanku.’ Demikian pula Mansur bin al-Mu’tamir yang berpuasa selama empat puluh tahun seperti Yazid.

Bagaimana pendapatmu tentang Sufyan ats-Tsauri yang menangis kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dengan air mata darah oleh karena rasa takutnya yang luar biasa. Begitu pun dengan Ibrahim bin Adham bagaimana bisa ia sampai buang air darah karena rasa takutnya kepada Alloh?. Perhatikanlah pula bagaimana kabar dan perjalanan hidup empat imam yang masyhur, Abu Hanifah, Malik, Syafii dan Ahmad, sungguh betapa tingginya kualitas ibadah dan zuhud mereka.

Berhati-hatilah, wahai saudaraku!. Janganlah karena kesibukkan dengan ilmu Anda tak pernah lagi mengamalkan apa yang Anda ketahui. Sesungguhnya hal itu merupakkan kelakuan para pemalas.

Lakukanlah segala sesuatu dengan perlahan-lahan

Masa depan hidupmu belum berpaling

Takutlah akan serangan yang mendadak

Hingga waktu seakan dilipat cepatnya

Jadikanlah dirimu sebagai tentara

Yang terhimpun siap berlaga di medan perang

Simak pula yang berkut ini. Masih dari Shoidul Khothir, kali ini dari Bab Ilmu dan Ibadah.

Sesungguhnya orang-orang yang berjalan di tengah gelapnya kebodohan akan tersesat. Begitu pula, akan tersesatlah mereka yang berjalan di atas jalan hawa nafsu.

Maka meskipun serem, tema ilmu dan amal harus tetap diangkat. Biarlah jiwa ini sekali-kali perlu ’ditonjok’ jangan dielus-elus terus. Bukankah tabiat manusia itu berbeda-beda. Ada orang yang mempan jika diberi ancaman. Namun ada pula yang malah takut dan semakin menjauh jika diancam. Orang seperti ini biasanya lebih suka diiming-imingi. Maka berikanlah peringatan dengan siksa dan azab bagi mereka yang lebih mempan dengan ancaman. Dan berikanlah kabar gembira berupa pahala dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi untuk mereka yang suka diiming-imingi. Akan lebih baik lagi jika kadarnya seimbang antara peringatan dan kabar gembira. Dimana-mana sikap pertengahan itu jauh lebih baik. Seperti konsep khouf dan roja (takut dan berharap) yang digambarkan laksana sepasang sayap burung.

Semoga Alloh melindungi kita dari menyerupai orang yahudi yang memiliki ilmu tapi tidak mengamalkannya. Aamiin ya Robbal ’alamiin.

_8 Romadhon 1429 lagi ngungsi di Danau Jempang_

3 Responses to “Antara Ilmu dan Amal”


  1. 1 Rizki Aji 9 September, 2008 pukul 5:23 pm

    bagus nih… rajin2lah nulis yang bagus2 bu

    ah, masih kalah sama bapak yang satu ini😛

  2. 2 dui 9 September, 2008 pukul 5:53 pm

    Allah Azza wa Jalla berfirman:

    قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

    “Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka (orang-orang yang berilmu) bergembira (berbangga), kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa (kemewahan duniawi) yang dikumpulkan (oleh manusia)” (QS Yunus:58)

    Juga…

    “Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.” (Al-Maidah: 4)

    Bayangkan, seandainya tidak karena keutamaan ilmu, niscaya hasil buruan anjing yang terlatih dan tidak terlatih akan sama.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,:

    “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.” (HR. Muslim)

    Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ketika mengomentari hadits di atas berkata, “Setiap jalan, baik konkret maupun abstrak yang ditempuh oleh ahlul ilmi sehingga membantunya mendapatkan ilmu, maka ia termasuk ke dalam sabda Nabi, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.” (lihat Kitab Fatawa As-Sa’diyah, As-Sa’di, 1/623)

    Mu’adz Radhiallahu Anhu berkata:

    “Pelajarilah ilmu, karena sesungguhnya mempelajarinya adalah pengagungan terhadap Allah, mencarinya adalah ibadah, menekuninya adalah memuliakan Allah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah.”

    Dan kriteria Ilmu Syar’i;

    1. Ilmu syar’i yang benar adalah ilmu yang diambil dari Al-Quran dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Sholafush sholeh (generasi sahabat dan tabi’in serta tabi’ tabi’in)

    2. Ilmu syar’i adalah ilmu yang mengantarkan pemiliknya untuk taat kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, takut kepada-Nya, dalam keadaan sendiri ataupun bersama orang lain. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Bukanlah ilmu dengan banyaknya riwayat, tetapi ilmu adalah rasa takut (kepada Allah). (lihat al-Fawaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)

    3. Ilmu syar’i yang harus kita raih adalah ilmu yang mendorong pelakunya untuk beramal dan mempraktekkan ilmunya, bukan sebatas pengetahuan atau penambah wawasan, atau sekedar meraih jabatan dan ijazah. Jangan lupa bahwasanya ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah. Buah ilmu yang sebenarnya adalah mengamalkan ilmu itu.

    Tapi masalahnya…

    Biasa tidur siap Subuh yah…?

    Hehehe… terusanya aneh yah, ga’ nyambung…


  1. 1 Antara ilmu dan amal « Ainuamri’s Weblog Lacak balik pada 22 Oktober, 2008 pukul 8:42 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Pengunjung Kelas

  • 9,581

Pelajaran Favorit

Arsip Kelas

Kategori


ayo pake jilbabnya

Portalnya Keluarga Bahagia

Jadwal Kajian Salaf

blog-nya musafir kecil



"Indonesians’

%d blogger menyukai ini: