Memangnya Suku Kamu Yang Paling Bagus??

peta indonesia     
Gara-gara tempo hari chat sama sarie. Jadi keinget sama kenangan waku zaman SMA dulu. tidak ada hujan tidak ada gledek (ya eyaalaah biasanya kalo ada hujan baru ada gledek) tiba-tiba si sarie nanyain karakteristik cowok aceh.  

Sarie : vi, cowok aceh itu kayak gmn seh, vi tau ga?
Devi: ga. Mang knp?
Sarie : gpp. Pengen tau aja.
Devi: kek bpknya icut (jawaban devi ngaco)
Sarie: jah, gak ada yang laen
Devi: kek Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro, Tengku Firmansyah & Tengku2 yg lain
(Jawaban devi makin ngaco)
Sarie: hahaha
Sarie: maksudnya sifat & karakteristik cowo aceh itu gmn?
Devi: gw pikir sifat & karakteristik itu ga bs digeneralisir
Sarie: iya tp kan biasanya ada satu daerah yg punya sifat & karakteristik yg jd trademark daerah itu.
Devi: mungkin liberal coz mrk kan pengen merdeka
Devi: or traumatik coz abis kena tsunami (jawaban devi dari awal ampe sini makin ngaco :p )

Nah, ceritanya (tapi ini nyata sih) waktu SMA aku punya teman laki-laki yang berdarah minang. Karena tahu aku orang jawa dia memanggilku dengan sebutan ”Jawa”. Padahal logatku sama sekali tidak medhok. Apalagi tindak tandukku. Wah jauh sekali dari gadis Jawa yang mungkin sering digambarkan kalem, lemah gemulai, dengan intonasi bicara yang lambat. Pokoknya jauh bangetlah!. Seperti langit dan sumur artesis!. Jauh banget!. Jika pertemanan kita dipresentasekan, maka dari 100% pertemanan hanya 20% dia memanggil namaku dengan baik dan benar. Menyebalkan!. Tentu saja aku tidak mau kalah. Aku balas memanggilnya dengan sebutan nasi awak!

Suatu hari ditengah pelajar akuntansi (dan gurunya terkenal killer) dia melakukan suatu kebodohan yang sangat menyenangkan bagiku. Guru tersebtut tengah mengabsen. Satu persatu nama dipanggilnya. Tibalah nama ”Murni”. Entah saat itu murni sedang apa, dia tidak mendengar padahal namanya sudah disebut beberapa kali. Nah si cowok minang ini mendengar. Kontan dia langsung berteriak: ”Eh Batak!Lo dipanggil tuh!”. seluruh kelas menoleh kearahnya. Murni langsung mengangkat tangan. Tidak ada lagi di kelas itu siswa yang berdarah Batak. Jadi pastilah yang dimaksud Murni.
Si Guru Akuntansi terkejut mendengar teriakan itu. Ia langsung berdiri dari kursinya dengan muka angker.
”Siapa yang tadi ngomong Batak?”
Anak-anak kompak menyebut satu nama. Termasuk aku tentunya.
”Saya juga orang Batak. Memangnya kamu pikir suku kamu yang paling bagus?!”
Si cowok minang ini Cuma bisa cengar cengir mendengar teguran dari Guru. Rupanya dia lupa, sewaktu perkenalan diawal semester dulu si Guru memperkenalkan dirinya sebagai blasteran Batak Jawa. Hu…Syukurin!!. tapi hal itu tidak membuatnya jera. Toh ia tetap memanggilku “Jawa” dan memanggil Murni “Batak”.

Negara kita memang terdiri dari berbagai ragam suku bangsa. Jawa, Minang, Sunda, Bugis, Batak, dan masih banyak lagi. Oia jangan sampai lupa juga dengan orang yang paling betah di wilayahnya. Siapa lagi kalau bukan orang Betawi (Betah di Wilayah). Dan setiap suku sepertinya memang punya sifat dan karakteristik yang khas meski aku selalu berpikir bahwa hal itu tidak bisa digeneralisir. Apalagi untuk anak-anak yang tumbuh besar di Jakarta. Sifat dan karakteristik daerah asal orangtua mereka sudah tidak nampak lagi. Mereka lebih seperti orang Betawi dengan gaya bahasa yang nyablak. Mulai dari orang Jawa, Minang, Sunda, Kalimantan semuanya nampak seperti orang Betawi. Bahkan mungkin lebih Betawi dari orang Betawi itu sendiri.
Termasuk juga dalam urusan jodoh. Biasanya pada beberapa suku lebih memilih untuk menikah dengan satu suku. Mungkin dengan alasan lebih mudah menyamakan kebudayaannya. Tapi tengoklah sebuah realita yang kutemui. Seorang Ibu yang akrab dipanggil Uni ditempat kajian. Pastilah kita langsung bisa menebak kalo Ibu ini berasal dari suku yang menang dalam pertarungan melawan kerbau. Yup, minangkabau. Logat minangnya pun masih kental terasa. Namun disuatu kesempatan, aku mendengarnya berbahasa Jawa. Berbahasa Jawa halus dengan logat yang medhok persis orang Jawa yang lahir dari bapak ibu Jawa dan tumbuh besar di daerah Jawa. Terang saja aku bingung. Jadi sebenarnya si Uni ini orang mana sih?. Ternyata Uni memang orang minang. Lah kok bisa ngomong Jawa?. Iya, beliau menikah dengan orang Jawa sehingga bisa bahasa Jawa. Jadi kalau Uni bicara bahasa Indonesia, akan sangat terasa logat Minangnya. Namun kalau sudah bicara bahasa Jawa, akan sangat terasa medhoknya. Pasangan ini cocok sekali menjadi lambang persatuan dan kesatuan.:). Buat menambah kental persatuan dan kesatuan negeri ini, bagaimana kalau kita jodohkan antara orang Madura dan Kalimantan (Sampit). Terus patungnya kita abadikan deh. (ha..ha..kalau yang ini udah ngaco, jangan didengerin).
Yang paling penting adalah kita mau bertoleransi dan memahami setiap sifat dan karakteristik dari setiap suku bangsa. Sehingga kita bisa menjalin hubungan erat dengan teman-teman diluar suku kita. Bukankah kita disatukan oleh Indonesia Raya (Ciaaelaahh Nasionalis banget siy gueee).

16 Responses to “Memangnya Suku Kamu Yang Paling Bagus??”


  1. 1 cantigi™ 30 Oktober, 2008 pukul 4:22 pm

    yap setuju. yg penting kita bisa nempatin pola pikir, tutur ucap & tingkah laku dg proporsional. spt menghormati & menghargai. sesederhana itulah.. ^_^

    ^_^

  2. 2 luqman 2 November, 2008 pukul 9:26 pm

    emang sih suku mempengaruhi watak seseorang. tp klo seperti sy yg keturunan sunda-jawa tp sejak lahir & dibesarkan ada di jakarta gmn??
    berarti kan yg mempengaruhi watak sy adalah lingkungan sy. kayak sy nih, org priok yg terbiasa keras. ya…jadinya watak sy keras. secara gitu lho, bergaulnya ama tmn2 yg preman gitu. he…he..

    itu point tambahan tuh, yaitu lingkungan juga mempengaruhi attitude kita. ^_^
    sorry klo salah pendapatnya ya. he…he..

    setuju…makanya kan “Apalagi untuk anak-anak yang tumbuh besar di Jakarta. Sifat dan karakteristik daerah asal orangtua mereka sudah tidak nampak lagi. Mereka lebih seperti orang Betawi dengan gaya bahasa yang nyablak. Mulai dari orang Jawa, Minang, Sunda, Kalimantan semuanya nampak seperti orang Betawi. Bahkan mungkin lebih Betawi dari orang Betawi itu sendiri”

    nah yg ini pasti karena pengaruh lingkungan kan?yup..^_^

  3. 3 Dalila Sadida 4 November, 2008 pukul 4:46 pm

    hehe… jadi penasaran siapa si minang itu. secara aku juga minang. hayuk ah saling menghargai ^_^ kak, gurunya siapa? pak ehem ehem ya?

    😀 keknya dida ga kenal yak. bukan bapak. gurunya ibu-ibu yang kata si cowok minang itu mirip ma aku. bisa nebak kan?

  4. 4 Fikri Faris 5 November, 2008 pukul 11:11 am

    hwaa, thanks GOD! walhamdulillah ada yg nulis posting ini. Pertanyaan “asal mana?”, “suku mana?” kyknya dah ga relevan lagi, disamping itu jenis pertanyaan yg sulit saya jawab ^_^. Salam kenal!

    😀 wah tapi kenapa sulit dijawab?jangan-jangan karena berasal dari 32 propinsi yak?

  5. 5 ghani arasyid 5 November, 2008 pukul 11:13 am

    tulisan yang bagus sekali…
    setidaknya kebanggan itu tidak untuk disombongkan🙂

    Terimakasih pak,iya betul.tidak untuk disombongkan dan memarginalkan yg lain

  6. 6 n@diYYah 5 November, 2008 pukul 3:45 pm

    I believe that the world would be a better place if people are less judgmental and more forgiving. salam kenal :]

    betul skali.salam kenal jg

  7. 7 andyan 5 November, 2008 pukul 4:30 pm

    emang sih
    suku g boleh dibeda2in
    ntar pecah perang suku gmna

    sayangnya memang sudah prnah pecah bung,dan sentimen kedaerah msh ada saja hingga kini

  8. 8 nico kurnianto 6 November, 2008 pukul 7:53 pm

    wkwkwkwk… pertama lucu bacanya… hm ya bener juga sich… apapun bahasa nya kita tetap satu Indonesia, kita juga harus menghargai keragaman budaya di Indonesia ini

    pertama baca lucu ya?hm ya bener jg sich..abis Tu ga lucu lg ya?hehe

  9. 9 mahabbahtedja 7 November, 2008 pukul 9:23 am

    Allah menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa untuk saling kenal mengenal…bukan banga-membangakan diri

    sungguh tidak ada yang bisa kita banggakan dari diri ini.

    yup betul skali!

  10. 10 sarie 8 November, 2008 pukul 2:39 pm

    wew..nama gw disebut2..
    bayar lo..
    sebagai selebritis aq ngerasa nama ku dipakai untuk kepentingan penuis semata,merugikan!!!
    hahahahaha..
    suku yah..
    i wondering about aceh tribe..can u tell me more about them??
    by the way anyway busway..
    aq juga sama ama tuh guru alias anak takwa ( batak jawa),hihihih..
    nica topic by sist…
    love u..

    hu..hu..yang punya nama mampir..:D takwa (batak jawa) apa baja (batak jawa)??😀

  11. 11 hik_mah 9 November, 2008 pukul 10:52 am

    setujuuuuu… ima juga sempat sebel kalo da orang yang menilai orang lain dari sukunya

    ^_^

  12. 12 4bu Huw@idah™ 13 November, 2008 pukul 7:53 am

    ngga bangga koq…
    cuma cinta ajah dengan Solo… :p
    * Solo bukan suku ya…

    ndak papa qo pak,asal jangan jadi sukuisme aja..Solo ya sukune jowo toh?^_^

  13. 13 bonar 13 November, 2008 pukul 10:07 am

    hehehe..
    kalo saya jadi bingung nih mendskripsikannya…
    saya orang batak, yang lahir di jakarta, besar di bandung, tamat kuliah di malang -jawa timur-, sekarang merantau di makassar…
    bisa 3 bahasa daerah, sunda, jawa, makassar…:P

    ahehehe…
    salam kenal yah, senang bisa mampir disini…artikelnya bagus2 dan menarik…

    salam,

    bonar
    http://sihotang407.wordpress.com

    biar ga bingung bilang aja saya orang indonesia.trimakasih atas pujian dan kunjungannya..

  14. 14 hyorinmaru 16 November, 2008 pukul 8:09 pm

    Duh, mo koment apa lupa…
    Gara2 dikejar takut DC (disconnect maksudnya).
    Hm,… pokoknya setuju😀

    wah,guru memang sibuk sekali ya pak

  15. 16 nuriyu 19 November, 2008 pukul 8:23 am

    indonesiaa.. bisaa!! (loh??)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Pengunjung Kelas

  • 9,581

Pelajaran Favorit

Arsip Kelas

Kategori


ayo pake jilbabnya

Portalnya Keluarga Bahagia

Jadwal Kajian Salaf

blog-nya musafir kecil



"Indonesians’

%d blogger menyukai ini: